05.08.08
AGAR RIZKI MENDAPAT KEBERKAHAN
MAKNA KEBERKAHAN
Betapa sering kita mengucapkan, mendengar, mendambakan dan berdoa untuk
mendapatkan keberkahan, baik dalam umur, keluarga, usaha, maupun dalam
harta benda dan lain-lain. Akan tetapi, pernahkah kita bertanya, apakah
sebenarnya yang dimaksud dengan keberkahan itu? Dan bagaimana untuk
memperolehnya?
Betapa sering kita mengucapkan, mendengar, mendambakan dan berdoa untuk
mendapatkan keberkahan, baik dalam umur, keluarga, usaha, maupun dalam
harta benda dan lain-lain. Akan tetapi, pernahkah kita bertanya, apakah
sebenarnya yang dimaksud dengan keberkahan itu? Dan bagaimana untuk
memperolehnya?
Apakah keberkahan itu hanya terwujud jamuan makanan yang kita bawa pulang
saat kenduri? Atau apakah keberkahan itu hanya milik para kiyai, tukang
ramal, atau para juru kunci kuburan, sehingga bila salah seorang memiliki
suatu hajatan, ia datang kepada mereka untuk ngalap berkah, agar
cita-citanya tercapai?
saat kenduri? Atau apakah keberkahan itu hanya milik para kiyai, tukang
ramal, atau para juru kunci kuburan, sehingga bila salah seorang memiliki
suatu hajatan, ia datang kepada mereka untuk ngalap berkah, agar
cita-citanya tercapai?
Bila kita pelajari dengan sebenarnya, baik melalui ilmu bahasa Arab maupun
melalui dalil-dalil dalam Al-Quran dan Sunnah, kita akan mendapatkan
bahwa kata al-barakah memiliki kandungan dan pemahaman yang sangat luas
dan agung. Secara ilmu bahasa, al-barakah, berarti berkembang, bertambah
dan kebahagian [1]. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : Asal makna
keberkahan, ialah kebaikan yang banyak dan abadi [2]
melalui dalil-dalil dalam Al-Quran dan Sunnah, kita akan mendapatkan
bahwa kata al-barakah memiliki kandungan dan pemahaman yang sangat luas
dan agung. Secara ilmu bahasa, al-barakah, berarti berkembang, bertambah
dan kebahagian [1]. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : Asal makna
keberkahan, ialah kebaikan yang banyak dan abadi [2]
DAHULU, SABA MERUPAKAN NEGERI PENUH BERKAH
Allah Subhanahu wa Taala berfirman tentang negeri mereka.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman tentang negeri mereka.
(Negerimu adalah) negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha
Pengampun [Saba : 15]
Pengampun [Saba : 15]
Ayat diatas berbicara tentang negeri Saba sebelum mengalami kehancuran
lantaran kekufuran mereka kepada Allah Subhanahu wa Taala. Dalam
Al-Quran, Allah Subhanahu wa Taala telah menjelaskan kisah bangsa Saba,
suatu negeri yang tatkala penduduknya beriman dan beramal shalih, maka
mereka dilingkupi dengan keberkahan. Sampai-sampai ulama ahli tafsir
mengisahkan, kaum wanita Saba tidak perlu bersusah-payah memanen
buah-buahan di kebun mereka. Untuk mengambil hasil buahnya, cukup menaruh
keranjang di atas kepala, lalu melintas di kebun, maka buah-buahan yang
telah masak akan berjatuhan memenuhi keranjangnya, tanpa harus memetik
atau mendatangkan pekerja untuk memanennya.
lantaran kekufuran mereka kepada Allah Subhanahu wa Taala. Dalam
Al-Quran, Allah Subhanahu wa Taala telah menjelaskan kisah bangsa Saba,
suatu negeri yang tatkala penduduknya beriman dan beramal shalih, maka
mereka dilingkupi dengan keberkahan. Sampai-sampai ulama ahli tafsir
mengisahkan, kaum wanita Saba tidak perlu bersusah-payah memanen
buah-buahan di kebun mereka. Untuk mengambil hasil buahnya, cukup menaruh
keranjang di atas kepala, lalu melintas di kebun, maka buah-buahan yang
telah masak akan berjatuhan memenuhi keranjangnya, tanpa harus memetik
atau mendatangkan pekerja untuk memanennya.
Sebagian ulama lain juga menyebutkan, dahulu di negeri Saba tidak ada
lalat, nyamuk, kutu, atau serangga lainnya. Kondisi demikian itu lantaran
udaranya yang bagus, cuacanya bersih, dan berkat rahmat Allah Subhanahu wa
Taala yang senantiasa meliputi mereka. [3]
lalat, nyamuk, kutu, atau serangga lainnya. Kondisi demikian itu lantaran
udaranya yang bagus, cuacanya bersih, dan berkat rahmat Allah Subhanahu wa
Taala yang senantiasa meliputi mereka. [3]
Kisah keberkahan yang menakjubkan pada zaman keemasan umat Islam juga
pernah diungkapkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah :Sungguh,
biji-bijian dahulu, baik gandum maupun yang lainnya lebih besar dibanding
dengan yang ada sekarang, sebagaimana keberkahan yang ada padanya
(biji-bijian kala itu, pent) lebih banyak. Imam Ahmad rahimahullah telah
meriwayatkan melalui jalur sanadnya, bahwa telah ditemukan di gudang
sebagian kekhilafahan Bani Umawi sekantung gandum yang biji-bijinya
sebesar biji kurma, dan bertuliskan pada kantung luarnya :Ini adalah
gandum hasil panen pada masa keadilan ditegakkan [4]
pernah diungkapkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah :Sungguh,
biji-bijian dahulu, baik gandum maupun yang lainnya lebih besar dibanding
dengan yang ada sekarang, sebagaimana keberkahan yang ada padanya
(biji-bijian kala itu, pent) lebih banyak. Imam Ahmad rahimahullah telah
meriwayatkan melalui jalur sanadnya, bahwa telah ditemukan di gudang
sebagian kekhilafahan Bani Umawi sekantung gandum yang biji-bijinya
sebesar biji kurma, dan bertuliskan pada kantung luarnya :Ini adalah
gandum hasil panen pada masa keadilan ditegakkan [4]
Bila demikian, tentu masing-masing kita mendambakan untuk mendapatkan
keberkahan dalam pekerjaan, penghasilan dan harta. Sehingga kita
bertanya-tanya, bagaimanakah cara agar usaha, penghasilan dan harta saya
diberkahi Allah?
keberkahan dalam pekerjaan, penghasilan dan harta. Sehingga kita
bertanya-tanya, bagaimanakah cara agar usaha, penghasilan dan harta saya
diberkahi Allah?
DUA SYARAT MERAIH KEBERKAHAN
Untuk memperoleh keberkahan dalam hidup secara umum dan dalam penghasilan
secara khusus, terdapat dua syarat yang mesti dipenuhi.
Untuk memperoleh keberkahan dalam hidup secara umum dan dalam penghasilan
secara khusus, terdapat dua syarat yang mesti dipenuhi.
Pertama : Iman Kepada Allah Subhanahu Wa Taala.
Inilah syarat pertama dan terpenting agar rizki kita diberkahi Allah
Subhanahu wa Taala, yaitu dengan merealisasikan keimanan kepada Allah
Subhanahu wa Taala.
Subhanahu wa Taala, yaitu dengan merealisasikan keimanan kepada Allah
Subhanahu wa Taala.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman.
Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya [Al-Araf : 96]
melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya [Al-Araf : 96]
Demikian, balasan Allah Subhanahu wa Taala bagi hamba-hamba-Nya yang
beriman, dan sekaligus menjadi penjelas bahwa orang yang kufur kepada
Allah Subhanahu wa Taala, niscaya tidak akan pernah merasakan keberkahan
dalam hidup.
beriman, dan sekaligus menjadi penjelas bahwa orang yang kufur kepada
Allah Subhanahu wa Taala, niscaya tidak akan pernah merasakan keberkahan
dalam hidup.
Di antara perwujudan iman kepada Allah Subhanahu wa Taala yang berkaitan
dengan penghasilan, ialah senantiasa yakin dan menyadari bahwa rizki
apapun yang kita peroleh merupakan karunia dan kemurahan Allah Subhanahu
wa Taala , bukan semata-mata jerih payah atau kepandaian kita. Yang
demikian itu, karena Allah Subhanahu wa Taala telah menentukan kadar
rizki setiap manusia semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya.
dengan penghasilan, ialah senantiasa yakin dan menyadari bahwa rizki
apapun yang kita peroleh merupakan karunia dan kemurahan Allah Subhanahu
wa Taala , bukan semata-mata jerih payah atau kepandaian kita. Yang
demikian itu, karena Allah Subhanahu wa Taala telah menentukan kadar
rizki setiap manusia semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya.
Bila kita pikirkan diri dan negeri kita, niscaya kita bisa membukukan
buktinya. Setiap kali kita mendapatkan suatu keberkahan, maka kita lupa
daratan, dan merasa keberhasilan itu karena kehebatan kita. Dan
sebaliknya, setiap terjadi kegagalan atau bencana, maka kita menuduh alam
sebagai penyebabnya, dan melupakan Allah Subhanahu wa Taala.
buktinya. Setiap kali kita mendapatkan suatu keberkahan, maka kita lupa
daratan, dan merasa keberhasilan itu karena kehebatan kita. Dan
sebaliknya, setiap terjadi kegagalan atau bencana, maka kita menuduh alam
sebagai penyebabnya, dan melupakan Allah Subhanahu wa Taala.
Bila demikian, maka mana mungkin Allah Subhanahu wa Taala akan memberkahi
kehidupan kita? Bukankah pola pikir semacam ini yang telah menyebabkan
Qarun mendapatkan adzab dengan ditelan bumi? Allah Subhanahu wa Taala
berfirman.
kehidupan kita? Bukankah pola pikir semacam ini yang telah menyebabkan
Qarun mendapatkan adzab dengan ditelan bumi? Allah Subhanahu wa Taala
berfirman.
Qarun berkata : Sesunguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang
ada padaku. Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah
membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih
banyak harta kumpulannya .. [Al-Qashah : 78]
ada padaku. Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah
membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih
banyak harta kumpulannya .. [Al-Qashah : 78]
bagian 2:
Perwujudan bentuk yang lain dalam hal keimanan kepada Allah Subhanahu wa
Taala berkaitan dengan rizki, yaitu kita senantiasa menyebut nama Allah
Subhanahu wa Taala ketika hendak menggunakan salah satu kenikmatan-Nya,
misalnya ketika makan.
Taala berkaitan dengan rizki, yaitu kita senantiasa menyebut nama Allah
Subhanahu wa Taala ketika hendak menggunakan salah satu kenikmatan-Nya,
misalnya ketika makan.
Dari Sahabat Aisyah Radhiyallahu anha, bahwasanya Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam pada suatu saat sedang makan bersama enam orang
sahabatnya, tiba-tiba datang seorang Arab badui, lalu menyantap makanan
beliau dalam dua kali suapan (saja). Maka Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda : Ketahuilah seandainya ia menyebut nama Allah (membaca
Bismillah, pent), niscaya makanan itu akan mencukupi kalian. [HR Ahmad,
An-Nasa-i dan Ibnu Hibban]
alaihi wa sallam pada suatu saat sedang makan bersama enam orang
sahabatnya, tiba-tiba datang seorang Arab badui, lalu menyantap makanan
beliau dalam dua kali suapan (saja). Maka Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda : Ketahuilah seandainya ia menyebut nama Allah (membaca
Bismillah, pent), niscaya makanan itu akan mencukupi kalian. [HR Ahmad,
An-Nasa-i dan Ibnu Hibban]
Pada hadits lain, Nab Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Ketahuilah bahwasanya salah seorang dari kamu bila hendak menggauli
istrinya ia berkata : Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah
kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan
kepada kami, kemudian mereka berdua dikaruniai anak (hasil dari hubungan
tersebut, pent) niscaya anak itu tidak akan diganggu setan [HR
Al-Bukhari]
istrinya ia berkata : Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah
kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan
kepada kami, kemudian mereka berdua dikaruniai anak (hasil dari hubungan
tersebut, pent) niscaya anak itu tidak akan diganggu setan [HR
Al-Bukhari]
Demikian, sekilas penjelasan peranan iman kepada Allah Subhanahu wa
Taala, yang terwujud pada menyebut nama-Nya ketika hendak menggunakan
suatu kenikmatan, sehingga mendatangkan keberkahan pada harta dan anak
keturunan.
Taala, yang terwujud pada menyebut nama-Nya ketika hendak menggunakan
suatu kenikmatan, sehingga mendatangkan keberkahan pada harta dan anak
keturunan.
Kedua : Amal Shalih
Yang dimaksud dengan amal shalih, ialah menjalankan perintah dan menjauhi
larangan-Nya sesuai dengan syariat yang diajarkan Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam. Inilah hakikat ketakwaan yang menjadi syarat datangnya
keberkahan sebagaimana ditegaskan pada surat Al-Araf ayat 96 diatas.
larangan-Nya sesuai dengan syariat yang diajarkan Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam. Inilah hakikat ketakwaan yang menjadi syarat datangnya
keberkahan sebagaimana ditegaskan pada surat Al-Araf ayat 96 diatas.
Tatkala Allah Subhanahu wa Taala menceritakan tentang Ahlul Kitab yang
hidup pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa
Taala berfirman.
hidup pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa
Taala berfirman.
Dan sekiranya mereka benar-benar menjalankan Taurat, Injil dan
(Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan
makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka [Al-Maidah : 66]
(Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan
makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka [Al-Maidah : 66]
Para ulama tafsir menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan mendapatkan
makanan dari atas dan dari bawah kaki, ialah Allah Subhanahu wa Taala
akan melimpahkan kepada mereka rizki yang sangat banyak dari langit dan
dari bumi, sehingga mereka akan mendapatkan kecukupan dan berbagai
kebaikan, tanpa susah payah, letih, lesu, dan tanpa adanya tantangan atau
berbagai hal yang mengganggu ketentraman hidup mereka [5]
makanan dari atas dan dari bawah kaki, ialah Allah Subhanahu wa Taala
akan melimpahkan kepada mereka rizki yang sangat banyak dari langit dan
dari bumi, sehingga mereka akan mendapatkan kecukupan dan berbagai
kebaikan, tanpa susah payah, letih, lesu, dan tanpa adanya tantangan atau
berbagai hal yang mengganggu ketentraman hidup mereka [5]
Di antara contoh nyata keberkahan harta orang yang beramal shalih, ialah
kisah Khidir dan Nabi Musa bersama dua orang anak kecil. Pada kisah
tersebut, Khidir menegakkan tembok pagar yang hendak roboh guna menjaga
agar harta warisan yang dimiliki dua orang anak kecil dan terpendam di
bawah pagar tersebut , sehingga tidak nampak dan tidak bisa diambil oleh
orang lain.
kisah Khidir dan Nabi Musa bersama dua orang anak kecil. Pada kisah
tersebut, Khidir menegakkan tembok pagar yang hendak roboh guna menjaga
agar harta warisan yang dimiliki dua orang anak kecil dan terpendam di
bawah pagar tersebut , sehingga tidak nampak dan tidak bisa diambil oleh
orang lain.
Allah Subhanahu wa Taala berfirmn.
Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua anak yatim di kota itu, dan
dibawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya
adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar mereka sampai
kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari
Rabbmu [Al-kahfi : 82]
dibawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya
adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar mereka sampai
kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari
Rabbmu [Al-kahfi : 82]
Menurut penjelasan para ulama tafsir, ayah yang dinyatakan dalam ayat ini
sebagai ayah yang shalih itu bukan ayah kandung dari kedua anak tersebut.
Akan tetapi, orang tua itu ialah kakeknya yang ketujuh, yang semasa
hidupnya berprofesi sebagai tukang tenun.
sebagai ayah yang shalih itu bukan ayah kandung dari kedua anak tersebut.
Akan tetapi, orang tua itu ialah kakeknya yang ketujuh, yang semasa
hidupnya berprofesi sebagai tukang tenun.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Pada kisah ini terdapat dalil bahwa
anak keturunan orang shalih akan dijaga, dan keberkahan amal shalihnya
akan meliputi mereka di dunia dan di akhirat. Ia akan memberi syafaat
kepada mereka, dan derajatnya akan diangkat ke tingkatan tertinggi, agar
orang tua mereka menjadi senang, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran
dan Sunnah [6]
anak keturunan orang shalih akan dijaga, dan keberkahan amal shalihnya
akan meliputi mereka di dunia dan di akhirat. Ia akan memberi syafaat
kepada mereka, dan derajatnya akan diangkat ke tingkatan tertinggi, agar
orang tua mereka menjadi senang, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran
dan Sunnah [6]
Sebaliknya, bila seseorang enggan beramal shalih, atau bahkan malah
berbuat kemaksiatan, maka yang ia petik juga kebalikan dari apa yang telah
disebutkan di atas, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
berbuat kemaksiatan, maka yang ia petik juga kebalikan dari apa yang telah
disebutkan di atas, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
Sesungguhnya seseorang dapat saja tercegah dari rizkinya akibat dari dosa
yang ia kerjakan [HR Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim dll]
yang ia kerjakan [HR Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim dll]
Membusuknya daging dan basinya makanan, sebenarnya menjadi salah satu
dampak buruk yang harus ditanggung manusia. Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam menyebutkan bahwa itu semua terjadi akibat perbuatan dosa umat
manusia. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
dampak buruk yang harus ditanggung manusia. Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam menyebutkan bahwa itu semua terjadi akibat perbuatan dosa umat
manusia. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
Seandainya kalau bukan karena ulah Bani Israil, niscaya makanan tidak
akan pernah basi dan daging tidak akan pernah membusuk [Muttafaqun
alaih]
akan pernah basi dan daging tidak akan pernah membusuk [Muttafaqun
alaih]
Para ulama menjelaskan, tatkala Bani Israil diberi rizki oleh Allah
Subhanahu wa Taala berupa burung-burung salwa (semacam burung puyuh) yang
datang dan dapat mereka tangkap dengan mudah setiap pagi hari, mereka
dilarang untuk menyimpan daging-daging burung tersebut. Setiap pagi hari,
mereka hanya dibenarkan untuk mengambil daging yang akan mereka makan pada
hari tersebut. Akan tetapi, mereka melanggar perintah ini, dan mengambil
daging dalam jumlah yang melebihi kebutuhan mereka pada hari tersebut,
untuk disimpan. Akibat perbuatan mereka ini, Allah Subhanahu wa Taala
menghukum mereka, sehingga daging-daging yang mereka simpan tersebut
menjadi busuk. [7]
Subhanahu wa Taala berupa burung-burung salwa (semacam burung puyuh) yang
datang dan dapat mereka tangkap dengan mudah setiap pagi hari, mereka
dilarang untuk menyimpan daging-daging burung tersebut. Setiap pagi hari,
mereka hanya dibenarkan untuk mengambil daging yang akan mereka makan pada
hari tersebut. Akan tetapi, mereka melanggar perintah ini, dan mengambil
daging dalam jumlah yang melebihi kebutuhan mereka pada hari tersebut,
untuk disimpan. Akibat perbuatan mereka ini, Allah Subhanahu wa Taala
menghukum mereka, sehingga daging-daging yang mereka simpan tersebut
menjadi busuk. [7]
Demikian, penjelasan dua syarat penting guna meraih keberkahan.
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M]